Jagoan Film Action

Kalau dengar nama-nama Stallone, Statham, Van Damme, Schwarzenegger, langsung terpikir film-film action. Badan kekar, lihai menghindar dari serbuan peluru, jago bela diri, dan selalu berhasil melumpuhkan musuh betapapun banyaknya. Dan film-film yang mereka bintangi juga bisa menyedot penonton yang cukup banyak. Great!

Saya terhibur melihat teknologi yang dipakai di film-film mereka, baik itu teknologi sinematografi maupun peralatan dalam cerita film. Tapi tidak untuk jalan cerita. Ya, mereka too good to be true. Oke sih, tapi kagak mungkin ada di kehidupan nyata. Seorang diri menyelamatkan sandera atau menyelesaikan misi tertentu dan tidak tertembak adalah sebuah mustahil. Apa karena prajurit atau geng musuhnya bodoh semua? Atau karena mereka yang memang super? Ah, itulah film Hollywood. Mereka membuat kesan seakan mereka adalah messias dan super.

Terus terang, saya ingin sekali melihat mereka berada dalam posisi looser dan bahkan mati. Maksudnya, realistis. Tapi pasti dikomentari kalau yang namanya film ya pasti ada jagoannya. Lain halnya dengan Batman di seri The Dark Knight . Batman yang menjadi tokoh utama di film itu terkesan tidak terlalu utama. Ia cenderung kalah secara mental dari Joker (yang sangat mempengaruhi James Holmes untuk aksi gilanya di pemutaran perdana The Dark Knight Rises di Colorado, AS). Justru seperti itulah yang menurut saya ideal karena sekalipun menjadi tokoh utama, jagoan adalah tetap manusia yang punya sisi down.

Published in: on 31 July 2012 at 4:23 PM  Leave a Comment  

Meubel Jati Bekas

Image

Gw selama ini bukan pengamat per-meubel-an atau aktif mencari-cari tahu tentang meubel, apalagi sampai tahu meubel itu dari bahan apa, pake kayu apa, dll. Sama sekali ga terpikir sampai kesana. Hingga istri gw bilang tentang meubel berbahan kayu jati, barulah gw ‘ngeh’.

Tak berhenti di situ, gw juga kaget ternyata meubel jati itu mahal sekarung. Pernah diajak ibu mertua sama istri ke pengrajin meubel untuk tanya-tanya harga lemari pakaian. Lemari pakaian dua pintu saja harganya 4,5 juta. Weekkksss! Mahal sekali! Gw pikir lemari ya pilih aja yang biasa-biasa saja, seperti merk Olimpic, dll, karena hanya merk-merk yang ada di toko-toko besar saja yang gw tahu.

Setiap produk itu hampir selalu punya pasar untuk produk second-nya. Ternyata ada penjual yang menjual meubel jati bekas yang dipoles kembali. Adalah Pak Robert salah satunya. Tempat berjualannya di daerah Cilendek, Bogor. Gw lupa ancer-ancernya tepatnya dimana. Yang jelas tempatnya itu lurusan dari Jalan Sumeru.

Dari luar, tempat Pak Robert tampak seperti penimbunan kayu atau meubel rusak. Memang benar, Pak Robert menerima pembelian meubel-meubel yang sepertinya dalam kondisi apapun. Dari bahan-bahan itu, dipoles dan dijadikan meubel yang nyaris seperti baru. Gw sendiri sampai nggak nyangka kalau dari rongsokan kayu bisa disulap menjadi tampil cantik.

Harganya? Ini yang mengejutkan. Gw sendiri dapet lemari pakaian satu pintu dengan harga dibawah 1 juta (Juli 2012). Udah gitu, jati lemari itu adalah jati tua, kira-kira tahun ’50-an yang dimana semakin tua semakin kuat (kata Pak Robert). Om gw beli dipan tempat tidur dan lemari pakaian juga. Tiga barang itu didapat dengan harga 2,7 juta. Jauuh banget dibanding satu lemari baru seharga 4,5 juta.

Tidak hanya lemari yang dijual, ada kursi tamu, kursi santai, dan berbagai model lemari. Om gw bilang, doi ga berani ke sana sering-sering, karena takut kepingin beli terus. Kebanyakan meubel yang dijual modelnya antik alias jadul. Pantaslah generasi om gw suka banget.

So, akhirul kata, kalau mengidamkan meubel jati namun duit ngepas, samperin Pak Robert.  Nomor teleponnya 0251-8334169.

Published in: on 30 July 2012 at 5:32 PM  Leave a Comment  

Nulis blog itu …

Nulis blog itu seperti nge-tweet cuma dalam versi yang panjang. Dan juga, nge-tweet itu seperti nulis blog dalam versi yang pendek. Unek-unek segala macem diungkap. Malahan orang-orang lebih banyak yang nge-tweet daripada nulis penuh (nge-blog). Twitter kills the writing habit. Emang iya?

Nulis itu seperti meluruskan jalan berpikir. Setidaknya itu aku rasakan. Di pikiran seperti angin taifun yang berputar kencang yang mengibas-kibas segala hal. Kalau tidak ada tuntunan jalan, pastinya bakal terjebak di putaran angin itu dan ngga ada jalan keluar.

Bagi beberapa orang, dengan nge-tweet aja sudah bisa terbuka ‘jalan keluar’ dari angin taifun itu. Kayanya kalau itu saja, belum ada perubahan yang signifikan di cara berpikir. Kadang aku sulit konsentrasi di satu topik atau lebih gampangnya disebut pikiran yang melayang-layang. Merambat pula di cara berbicara. Di pikiran yang ngga fokus, susah bisa tersusun kata-kata dan kalimat untuk dilafalkan. Akibatnya bicaraku jadi kurang lancar.

Dengan nulis, moga-moga lebih melancarkan apa yang akan aku omongin. Males juga kan ngomong belibet. So, ayo nulis. Biar jelek, tetap nulis!

Image

Published in: on 30 July 2012 at 2:54 PM  Leave a Comment  

Nulis jelek

Kata Raditya Dika, menulis aja terus sekalipun mood lagi jelek. Lebih baik menghasilkan satu tulisan jelek daripada tidak menulis sama sekali. Bener juga kata dia. Tulisan jelek kan lagi ditulis dan dibaca ketika itu, bisa jadi dikemudian hari pas dibaca-baca lagi bisa disambung jadi tulisan yang bagus.

Ternyata Raditya Dika itu seumuran aku. Aku tau dari informasi lamannya dia. Hm, seusia aku sudah bisa bikin karya dan penghasilannya pasti sudah cihuy. Argh, aku kemana aja selama ini???

Hari ini, Senin (30/07), tumben aku ga terlalu ngerasa ngantuk. Apa karena kemarin tidur cukup? Atau malah karena makan sahur ga banyak? Selain ga terlalu ngantuk, aku juga ga terlalu ngerasa lapar. Alhamdulillah lho.

Bahan sidang untuk Rabu (01/08) sudah selesai. Tumbenan aku cuma dapet satu BAS dan 3 RSB. 3 RSB itu sudah aku selesaikan dari kemarin-kemarin. Wuih, enak sekali kalo sudah selesai kerja itu. Jadi bisa ngerjain hal-hal lain.

Aku uninstall game FM dan Call of Duty dari komputerku. Moga-moga aku ga lantas terjebak di fantasi game-game itu seperti yang menjangkiti aku selama ini. Parah lho, kalau lagi diem gitu, kepikiran Antonio Adan dimainin di pertandingan apa saja. Daripada mikirin hal itu, mending mikirin hal lain yang riil n lebih produktif.

Published in: on 30 July 2012 at 1:52 PM  Leave a Comment  
Tags:

STEREOMANTIC : Album Release Party. September 25th, 2011

Fitrah sebuah band adalah menghasilkan karya musik. Lebih luas lagi, scene musik menganggap suatu band itu masih hidup, vakum atau sudah bubar adalah dari album yang dirilisnya. Jaman illegal-download berjamaah sekarang ini tentu saja tantangan tersendiri bagi setiap insan musik di samping masalah internal mereka. Yang pasti, rilisan album dari sebuah band adalah sebuah prestasi sekaligus nafas yang menyambung nyawa band itu sendiri.

Stereomantic adalah satu dari sekian ribu band yang masih keukeuh untuk tetap hidup. Band yang mengusung musik electro-pop ini merilis full album mereka yang kedua yang berjudul Cyber Superstar. Sekelumit tentang Stereomantic, band ini terdiri dari Aroel (synthesizer, progammer) dan Maria (vokal). Aroel adalah mantan gitaris band britpop veteran, Planet Bumi, dan Maria adalah vokalis dari band Klarinet, yang terkenal dengan lagu Pergi Ke Bulan. Sebelum album Cyber Superstar, mereka sudah memproduksi 1 full album, 1 mixtape album, dan 1 cover version album (www.stereomantic.tumblr.com).

Adalah bertempat di The Tee Box Café, Jakarta, tanggal 25 September 2011, acara perilisan album ini digelar. Harga tiket masuknya adalah Rp35.000,00, sudah termasuk CD album Cyber Superstar. Hal ini yang pertama kali menggeletik saya, dengan harga Rp35.000,00, sudah mendapatkan CD asli dan fasilitas café yang cukup cozy. How come? Pastinya mereka sudah punya kalkulasi tersendiri. Menurut saya, ini adalah salah satu seni bagi scene indie mengenai bagaimana cara mereka untuk tetap survive walaupun bergerak tidak di jalur mainstream.

Menurut jadwal, acara dimulai pada pukul 17.00 WIB. Namun hingga azan Maghrib berkumandang, tweet dari Aroel mengatakan bahwa mereka sedang check sound yang artinya acara belum dimulai. Acara benar-benar dimulai pada pukul 19.00 WIB. Yah, memang sudah merupakan kelaziman acara molor seperti ini.

Band pertama yang tampil adalah Telegraph. Saya tidak tahu sama sekali tentang band ini dan bagaimana musiknya. Hal pertama yang menarik perhatian adalah pada body gitar salah satu gitarisnya terpasang Korg Kaossilator. Wow, Matt Bellamy banget!
Pada lagu pertama, ada persoalan teknis klasik yang sering terjadi, yaitu suara kresek-kresek yang entah bersumber dari mana. Musik Telegraph didominasi duo echoes ambience guitars. Pada karakter vokal sang vokalis saya menangkap ada unsur Robert Smith (The Cure) dan Brian Molko (Placebo), diperkuat lagi ada vokal auuwwww khas Robert Smith.

Band kedua : Morning Blue. Sama seperti Telegraph, saya belum pernah tahu sebelumnya. Ternyata personel-personel Morning Blue ini termasuk ‘warga’ Poster Café yang merupakan magnet scene indies di Jakarta di dekade 90-an. Secara musikalitas, Morning Blue ini lebih ‘nyaman di telinga’ dibanding Telegraph, entah itu dari faktor tata suara atau lagu-lagunya. Gaya vokalisnya mirip dengan Giring Nidji dan juga Ian Brown (ex. Stone Roses) yang bergestur ‘resah’ dan mengangkat microphone di atas kepala. Di tengah performa, sang vokalis memberi usul secara umum kepada film maker untuk membuat film dokumenter tentang scene britpop di Jakarta karena banyak sekali materi yang bisa dijadikan bahan pembuatan film tersebut.

Band ketiga adalah Klarinet, band yang sepertinya tidak akan pernah sempat saya menontonnya. Dibuka dengan satu nomor milik The Cardigans, Iron Man. Astaga, vokalnya Maria sangat Nina Persson. Suasana retro semakin mengental dengan iringan sound Hammond. Suasana lagu-lagu Klarinet serasa seperti sedang pergi ke taman di bukit yang berudara sejuk bersama sang kekasih tercinta. Favorit saya, Pacar Tetangga. 

Penampil keempat adalah Planet Bumi. Band ini merupakan veteran yang juga mantan dedengkot Poster Café. Aroel yang resmi sudah bukan personel Planet Bumi sempat mengisi porsi gitar di 1-2 lagu yang dimainkan. Sebenarnya musik Planet Bumi ini bagus – favorit saya lagu Belahan Jiwa –  namun penampilan di atas panggung yang cenderung tidak menghibur membuat saya menilai penampilan mereka plain. Nyoman, vokalis dan sekaligus manager Stereomantic, sempat turun panggung dan posisi vokal diganti oleh kawan mereka, lantas 2 lagu Morrissey dimainkan, salah satunya favorit saya, Almamater.

Pada puncak, Stereomantic. Penampilan mereka dibantu 2 additional player, pada gitar dan drum. Terus terang saya masih asing dengan musik Stereomantic karena sejak awal memang tidak terlalu mengikuti. Secara musikalitas menurut saya ada polesan jenius dibaliknya. Beat, tone, dan lirik terpadu dengan enak untuk dinikmati. Tidak berat. Gaya Maria di atas panggung juga pas, tidak terlalu over bergerak dan juga tidak statis. Aroel terlihat cukup nyaman meski dibalik jajaran keybord dan laptopnya. Ada beberapa lagu galau yang dibawakan namun ada juga yang cukup upbeat. Hanya Cyber Superstar saja yang saya ingat. Cyber Superstar ini menceritakan tentang fenomena seseorang yang menjadi terkenal melalui dunia maya. “you were nothing / but now I know that you are something / a digital something / computer tells me you call out for eXistenZ / when they call you a cyber superstar”.

Secara umum, acara rilis album ini berjalan sukses. Namun molornya acara dimulai menyebabkan acara ini hingga pukul 23.00 sehingga beberapa penonton memilih pulang, termasuk saya dan kawan saya. Biasanya semakin menjelang berakhirnya penampilan, semakin spesial yang akan disuguhkan. Saya dan kawan saya terpaksa melewatkannya. Bahkan setelah masuk ke tengah penampilan Stereomantic, rasa kantuk cukup mengurangi antusias dan konsentrasi untuk menonton. Sangat disayangkan. Namun acara seperti ini harus tetap bisa lestari. Scene musik indie akan terus eksis bila kesempatan manggung banyak pula. Selain itu juga dapat menjadi ajang kaderisasi untuk band-band baru.

Viva la indie music…

Published in: on 4 October 2011 at 8:33 AM  Comments (3)  

Cuti Bersama Itu (Tidak Selalu) Cute

Sesungguhnya, cuti bersama itu tidak selalu cute. Tentu saja, pegawai dan karyawan yang masih semangat ingin bekerja ‘dipaksa’ untuk mengurungkan niat suci itu. Ini gila!

Okeh, kembali ke realita. Bagi saya yang menjadi pelayan masyarakat ini, jatah cuti tahunan diberikan sebanyak 12 hari. Adanya libur-libur nasional yang disambungkan sama cuti bersama tentu saja mengurangi jatah cuti itu. Itu sudah tercetak di kalender edisi Aku Anak Sholeh yang saya dapatkan sebelum tahun ini kick-off. Artinya, sisa cuti tahunan yang bisa diambil sudah bisa diperkirakan dan follow-up dari itu, saya bisa ambil cuti untuk kepentingan yang lain.

Tiba-tiba, jagat televisi dan situs online mengejutkan bangsa ini dengan diumumkannya cuti bersama hari Selasa (16/05), tanggal diumumkan : Jumat (13/05) pukul 16.30 WIB. Fuck yeah sekali, Men (baca : menteri). Segala macam hiruk pikuk ticket-hunting, lembur ngejar kerjaan, pelayanan masyarakat tutup, rencana produksi berantakan, so pasti menghiasi segala segmen masyarakat. Entahlah maksudnya apa. Kalau kata Cinda kawan rebel saya : “Maksudnya baik…”

Dan, tanggal 03 Juni 2011 ditetapkan cuti bersama (lagi). Jatah cuti saya jadi ilang satu lagi. ‘kan ini bukan kehendak saya pribadi mau cuti, ko harus dipaksa cuti. Serba nggak adil, mau cuti sehari, ga boleh, tapi kalau tiba-tiba ada pengumuman cuti bersama, semua harus ikut.

Ternyata, segala “Maksudnya baik…” itu belum tentu ditanggapi dengan baik pula…

Published in: on 24 May 2011 at 11:24 AM  Leave a Comment  

Sendainya Dunia Tanpa Inf*tai*ment

Yang jelas akan terjadi jobless massal, karena acara ber-genre ini cukup banyak menyerap tenaga kerja. Hampir semua stasiun televisi mempunyai program ini, kecuali stasiun televisi yang fokus di program berita. Mungkin dirasa kejam karena menghapus satu segmen sumber penghasilan. Ternyata dalam bernegara, penyelenggara negara tidak akan pernah bisa memberikan kesenangan kepada semua pihak dalam waktu yang bersamaan.

Survival of the fittest‘ sepertinya layak disematkan pada program ini. Jelas, sejak kehadirannya di layar kaca Indonesia pada tahun 90’an, ia masih eksis hingga saat ini bahkan semakin mencengkeramkan kuku-kukunya di denyut hidup (sebagian) masyarakat Indonesia. Mulai dari pagi hari, kemunculannya sudah menyapa pemirsa. Pagi hari dimana setiap orang bersiap memulai hari baru dengan calon tantangan yang akan menghadang, otak sudah diisi dengan berita-berita yang lebih banyak tidak inspiratif.

Berita tentang aktris belum pulang berbulan-bulan, foto syur, konflik dengan mantan rekan duet, cerai, dan masih banyak yang lain, apa yang inspiratif dari situ? Okeh, anak yang tidak pulang ke rumah hingga berbulan-bulan pasti dipandang sebagai ‘tragedi’ bagi orang tuanya, bagaimana dengan anak jalanan yang tidak terurus orang tuanya atau kakek nenek jompo yang sudah tidak diperhatikan anak-anaknya? Apakah berita aktris ‘hilang’ itu layak dibesar-besarkan dan ditayangkan dengan frekuensi terus menerus? Bukan tidak mementingkan kejadian itu, but, who the hell the actress is? Is she a legendary actress? Does she inspire others so that people has to care about her?

Seperti layaknya kasus video porno yang kemarin sempat ramai, kabar foto (yang katanya) syur juga memiliki efek yang sama. Kenapa sih berita-berita seperti itu tidak ditutup saja, artinya, dengan sedikit dibuka, rasa penasaran pasti akan muncul yang bisa diartikan program itu mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat hal privat itu secara berjamaah. Tidak perlu membahas tentang dosa. Stimulus terhadap otak manusia sudah pasti beraroma kurang baik. Katanya, jangan suka membuka aib atau menjelek-jelekan orang lain, karena sebenarnya kita sendiri tahu siapa yang buruk sebenarnya.

Perang pernyataan di media dengan menuduh sesama mantan rekan duet adalah gambaran yang lucu. Okeh, mereka pasti ada konflik sehingga kebersamaan yang sempat menjadi populer itu menjadi berakhir. Memang perlu ya pamer konflik di umum? Kalau mereka anak SD, bisa dimaklumi. Sikap orang dewasa seperti itu apa perlu dicontoh oleh generasi muda penanggung utang bangsa triliunan rupiah ini? Kemana mental penyelesaian secara kekeluargaan atau pencarian solusi dengan kepala dingin?

Sepertinya (sebagian) masyarakat Indonesia senang sekali dengan berita perceraian. Saya memang belum merasakan menikah, namun sekecilpun konflik dengan pasangan itu tetap menyesakkan, apalagi sampai ke masalah perceraian yang menurut logika saya itu sudah sampai di superlative degree of conflict. Nah, justru ini yang dieksplorasi oleh program ini. Mungkin para pencari berita itu belum merasakan bagaimana bercerai, sehingga bersemangat sekali untuk memberitakan dengan masif.

Program ini berdiri di atas industri yang berlaku hukum ekonomi di dalamnya. Pasar pasar pasar. Itulah benteng yang hampir selalu dipakai. Pertanyaan yang tertinggal, apakah sudah tidak ada hasrat untuk membangun mentalitas bangsa yang ‘militan membangun’? Paling tidak, dengan tidak membuai bangsa ini dengan hal-hal yang terlalu bodoh untuk diikuti. Hiburan memang dibutuhkan di tengah kepenatan rutinitas.

Harapan saya, info-taintment bisa memberikan informasi yang membangun, mencerahkan, dan menginspirasi dengan balutan entertaintment sehingga mudah diresap oleh bangsa ini.

Published in: on 24 May 2011 at 9:57 AM  Leave a Comment  

Sekelumit Cerita dari Es Krim Ragusa

Baru saja, saya dan kekasih mengunjungi salah satu titik kuliner yang sangat dikenal oleh warga Jakarta, yaitu Es Krim Ragusa. Lokasinya di bilangan Jakarta Pusat, dekat dengan Masjid Istiqlal dan gedung-gedung pemerintah, tepatnya di Jalan Veteran. Sederetnya juga terdapat tempat-tempat untuk berkulineran namun yang satu ini sungguh menarik, karena masih mempertahankan rasa ‘lama’.

Begitu melewati pintu masuk, terlihat tulisan yang mempertegas rasa ‘lama’ itu. “Es Krim Ragusa sejak tahun 1932”. Pembuktian berikutnya ada foto-foto jadul di tiga sisi dindingnya yang menggambarkan suasana kedai Es Krim Ragusa ketika jaman baheula. Ada salah satu foto dimana tempat dimana saya berada ini sedang dipenuhi oleh orang-orang bule, sepertinya sedang ada suatu perayaan. Saya ambil kesimpulan singkat kalau Es Krim Ragusa ini termasuk salah satu tempat gaul yang paling gaul sekota Batavia. Termasuk ada foto dimana di sekitar kedai Es Krim Ragusa masih berupa tanah yang cukup lapang.

Selain hiasan foto-foto jadul, desain meja dan kursi bagi pengunjung pun juga termasuk desain lama. Dilihat dari kondisinya, saya rasa ini tidak sejak dari jaman penjajahan. Kursi rotannya nyaman sekali untuk diduduki, mau posisi agak tegak atau ‘melorot’ pun terfasilitasi. Dan yang saya pilih menjadi ikon jadul yang kuat adalah mesin kasir yang jadulnya minta ampun namun masih berfungsi. Timbul penasaran yang ingin saya urai ketika saya bayar tagihan nanti.

Pengamen di sini pun juga membawakan lagu-lagu oldies. Yang muncul di pandangan mata saya ini seorang pria tua, umur sekitar 55-an, kurus, rambut panjang yang sudah terlihat memutih, dan memakai topi pad. Satu per satu lagu oldies dibawakan dengan tempo seasyik menurut dia, namun masih ‘got the point’ lah. Ketika ia ke arah tempat saya duduk, saya langsung request lagu All I Have To Do (is Dream)-nya The Everly Brothers. Sejenak bapak pengamen itu mengernyitkan dahi mengaduk-aduk memori mencari lirik dan kord lagu. Setelah mencoba beberapa kord, akhirnya ia memulai lagu itu. Well, I like that song so well.

Tetangga yang baik adalah tetangga yang saling tolong-menolong. Mungkin kalau bahasa sekarang adalah tetangga yang dapat simbiosis mutualisme. Saya rasa itu berlaku bagi Es Krim Ragusa dengan tetangga-tetangganya. Di sebelahnya terdapat kedai pempek yang tampak sepi sekali. Dan ternyata memesan pempek lalu dimakan di kedai Es Krim Ragusa itu boleh-boleh saja. Mungkin itu memang sudah biasa, tapi bagi saya itu menyenangkan.

Ketika tiba saya untuk membayar, saya tanyakan langsung kepada penjaga kasir perihal mesin kasir itu. Saya bilang (nyeletuk tepatnya) kalau saya ingin mengoleksi mesin kasir seperti itu. Ternyata orang lain pun ada yang nyeletuk ingin ‘ngebayarin’ properti Es Krim Ragusa. Kipas angin gantung adalah termasuk sasaran minat. Kipas itu sudah beroperasi sejak tahun 1945-an, kata ci’ penjaga kasir, dan masih sehat walafiat sampai sekarang.

Giliran kekasih saya yang nyeletuk, pemiliknya siapa. Diceritakanlah oleh ci’ penjaga kasir itu bahwa pada awalnya Es Krim Ragusa ini adalah milik seorang warga negara Italia, ya, sesuai dengan tagline-nya. Si pemilik itu mempekerjakan beberapa karyawan yang salah satunya keturunan Cina. Nah, menikahlah mereka. Ketika jaman perang kemerdekaan, si Italiano ini mengungsi ke negaranya bersama istrinya. Usaha es krim tetap berjalan, tongkat estafet usaha diserahkan ke adik sang istri. Sejak itu diterapkan prinsip profit sharing adik sang istri dengan sang suami sebagai pendiri dan terus dijalankan secara turun temurun.

Menariknya, terjadi pernikahan antara keturunan sang adik dengan sang Italiano yang sebenarnya masih dikatakan sebagai satu saudara. Saya sebenarnya tertarik untuk bertanya tentang garis keturunan menurut budaya Cina, yang mana saudara yang masih muhrim dan mana yang bukan, namun tangan saya sudah ditarik-tarik sama kekasih saya, jadi, saya urungkan niat itu. Di akhir perbincangan, ci’ penjaga kasir itu mengatakan “Karena dua keturunan nikah, jadi, rejekinya nggak kemana-mana. Hehehehe.” Sumringah.

Published in: on 10 May 2011 at 10:50 PM  Comments (2)  

Swing Jazz Tonight

Musik jazz yang membuat saya langsung terpikat adalah swing jazz. Bermula dari ajakan seorang teman, yaitu Damar Wijanarko, untuk patungan membeli CD bajakan The Best of Frank Sinatra seharga Rp 20.000,00. Awalnya saya ragu karena saya tidak familiar dengan musiknya. Namun pada akhirnya, saya ikut patungan.

Track demi track saya dengarkan. Saya menemukan musik yang sebenarnya sudah pernah saya dengarkan di film-film barat ketika adegan romantis (bukan porno). Salah satu lagu yang membuat saya langsung suka adalah Strangers In The Night. Temponya lambat dan entah mengapa saya membayangkan swing jazz ini adalah musik yang romantis, tentunya yang beat-nya lambat. Sejak saat itulah, saya gemar mencari tahu informasi tentang musisi yang memainkan swing jazz. Saya dapatkan nama Nat King Cole dan Tony Bennett.

Malam ini, saya mendengarkan karya Nat King Cole yang dibawakan oleh Marvin Gaye. Ada yang bertempo menghentak dan juga lambat. Untuk yang bertempo lambat inilah yang menjadi favorit saya. Saya mention Pretend, Mona Lisa, dan Too Young sebagai jagoan yang sering saya play. Susah untuk mendeskripsikan secara teknis musik namun bisa saya rasakan suasananya.

Lagu Pretend menurut saya cocok dikala duduk berdua bersama pasangan, dengan ruangan bercahaya lembut, lampu berwarna kuning, dan saling bertukar kalimat yang menyenangkan. Hm, suhu ruangan cukup sejuk. Tiba-tiba saya membayangkan pada suatu saat saya bersama Tyas bercengkrama ditemani lagu ini. Menyenangkan sepertinya.

Mona Lisa termasuk lagu yang cukup dikenal masyarakat. Saya jadi ingat suatu kartun Disney dimana pada adegan tokoh utama (saya lupa) sedang sendirian dan melamun tentang harapan yang ingin ia gapai. Begitu pula di kehidupan nyata. Lagu ini sepertinya cocok ketika ingin melamunkan angan, menciptakan realita maya dalam benak kita akan kehidupan yang menurut kita menyenangkan.

Too Young berjalan dengan tempo lambat, lebih lambat dari Pretend. Yang ada dibayangan saya, lagu ini cocok diperdengarkan ketika berpelukan bersama pasangan. Suasana tenang, seakan sembari melepas kepenatan dari aktifitas dan rutinitas.

Setelah ini tentu saja saya senantiasa akan selalu digging lagu-lagu yang lain dan dari musisi yang lain pula. Banyak sekali karya swing jazz seperti ini yang bisa menenangkan perasaan. Ya, itulah mengapa saya suka swing jazz. Bagi yang belum pernah mendengarkan, cobalah. Suka atau tidak, yang penting, sudah pernah ‘menyentuhnya’. J

Aditya Kusuma Rachman

24 April 2011

Published in: on 24 April 2011 at 10:43 PM  Leave a Comment  

CATATAN KESAN OPERA TAN MALAKA Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, 23 April 2011

Gaung Opera Tan Malaka sebenarnya sudah saya tangkap ketika pementasannya yang pertama, yaitu pada akhir tahun 2010, yang ketika itu diadakan di Teater Salihara. Hasrat ingin menonton sebenarnya, apalagi mendengar kabar bahwa tiket pertunjukannya sold out. Akhirnya, saya tidak menontonnya karena satu lain hal yang membuat saya tidak hadir.

Mungkin karena antusiasme masyarakat sangat tinggi, maka diadakan lagi pertunjukan Opera Tan Malaka yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki (TIM) tanggal 23-24 April 2011. Mendengar kabar ini sontak membuat saya tidak ingin terlewat seperti pertunjukan tahun lalu. Kebetulan tidak ada jadwal khusus, saya plot waktu saya untuk menonton pertunjukan itu di hari pertama, yaitu hari sabtu tanggal 23 April 2011.

Harga tiket mulai dari Rp 100.000,00 sampai jutaan. Tentu saja saya ambil yang terendah. Saya agresif mencari informasi tentang penjualan tiketnya. Dari buklet TIM saya dapatkan beberapa nomor telepon yang bisa dihubungi untuk pemesanan tiket. Beberapa kali saya hubungi nomor telepon yang ada tidak membuahkan hasil, saya pesan lewat e-mail dan ternyata ada respon. Saya beli dua tiket, yang satu lagi untuk Tyas yang kebetulan belum pernah menonton pertunjukan seni.

Sampai di lokasi pukul 18:45. Pertunjukan dimulai pukul 20.00. Di halaman TIM saya lihat beberapa pasukan TNI bersiaga dengan senapan di tangan. Saya bingung, ada apa kok sampai ‘segininya’ penjagaannya. Apakah karena ini menyangkut Tan Malaka, seperti yang terjadi di Jawa Timur dimana Kodim setempat tidak mengijinkan pertunjukan ini diselenggarakan. Rasa penasaran saya makin menumpuk ketika tiba di pelataran GBB untuk menukarkan tiket dengan bukti pembayaran. Di sana saya melihat beberapa petugas keamanan berambut cepak memakai batik lengkap dengan earphone di telinganya dan Polisi Militer. Pada pintu masuk GBB juga ada alat pemindai barang seperti di bandara. Sekali lagi, yang ada di benak saya, apakah ini karena Tan Malakanya atau karena yang lain.

Penasaran saya mulai terkikis. Saya lihat beberapa orang ‘gede’, yang pertama saya lihat dan kenali adalah Adnan Buyung Nasution. Penonton-penonton yang lain juga terlihat sebagai orang ‘gede’, itu saya simpulkan dari penampilan mereka yang berbeda dari penonton biasa. Karena masih cukup lama menjelang pertunjukan dimulai, saya dan Tyas mencari makanan dulu karena saya estimasikan pertunjukan ini akan berlangsung dengan durasi yang cukup lama.

Pukul 19.30 saya dan Tyas menuju GBB. Terlihat makin ramai penonton yang sudah berada di depan pintu masuk. Kami putuskan langsung masuk saja, dengan melewati pemindai barang dan manusia terlebih dahulu. No explosive materials, of course, sir. Di dalam GBB saya menilai makin banyak orang ‘gede’ yang hadir. Tapi yang saya kenal adalah ada Ulil Absar Abdalla dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Goenawan Mohamad (GM) sang sutradara terlihat sedang mengobrol ringan dengan beberapa penonton. Seperti layaknya suatu perhelatan yang menyedot banyak penonton, terdapat dua banner horisontal, yang satu tentang ulang tahun Tempo yang ke-40 dan yang satu lagi tentang acara ini, yaitu Opera Tan Malaka, kemungkinan banner ini disiapkan salah satunya untuk objek berfoto penonton. Sekali-kali narsis, saya minta Tyas untuk memfotokan saya dengan background di banner Tan Malaka dan later saya twit foto saya itu. Narsis adalah Hak.

Pukul 19.45, kami masuk ke ruang pertunjukan. Posisi duduk kami ada di bawah sebelah kiri panggung. View kami pada panggung cukup enak dan tidak terganggu. Bagian kiri panggung terdapat tangga kayu yang menjulang hingga ¾ tinggi panggung, bersambungan dengan rangka kayu yang melintang di panggung bagian belakang hingga bagian kanan panggung. Di depan panggung ada space untuk orkestra. Persis sekali seperti susunan opera di luar negeri.

Di bagian tengah kursi tengah penonton, ada beberapa baris kursi yang terlihat tidak biasa, yaitu kursi-kursi itu dibungkus dengan kain putih seperti yang biasa terlihat di kursi kereta kelas bisnis atau eksekutif. Hm, benar dugaan saya, pasti ada orang ‘gede’ khusus yang akan menonton. Ketika sudah masuk pukul 20.00, terdengar suara panduan dari pembawa acara bahwa Wakil Presiden RI, Bapak Boediono, akan memasuki ruangan. “Bapak Wakil Presidin RI, Bapak Boediono, …” Sontak terdengar tawa kecil dari penonton atas kesalahan ucap itu.

Pak Boed dan istri memakai batik hijau sarimbit. Datang bersama romobongan yang entah itu pengawal semua atau ada yang non-pengawal. Tidak lama setelah rombongan duduk di tempat yang disediakan, lampu black out dan pertunjukan dimulai.

Babak pertama dimulai dengan barisan tentara memasuki panggung. Di atas tangga kayu, ada seorang tentara mengibarkan bendera Uni Soviet yang gagah dengan lambang palu aritnya. Wew, suatu langkah berani bagi pementasan ini, menunjukan lambang yang dinilai ‘horror’ itu apalagi dihadapan para personel TNI ini.

Saya belum pernah menonton opera sebelumnya, sehingga seperti apa bentuk opera itu saya masih belum tahu, apakah seperti teater biasa, drama musikal, atau tari. Secara keseluruhan, opera ini disusun dengan beberapa elemen, yaitu musik, vokal seriosa, teater, dan film. Entah mengapa, saya kurang ‘klik’ dengan bagian seriosanya. Selain liriknya tidak terdengar jelas, seriosanya itu sendiri masih susah untuk saya pahami. Bahkan di tengah-tengah babak, ketika terlihat penyanyi seriosa mulai masuk panggung, saya seakan berkeluh “Yah, kok masuk lagi sih?” Musik orkestra yang mengisi tiap bagian opera saya kira terlalu banyak porsinya, sehingga saya kurang banyak menangkap ‘Tan Malaka’-nya. Komposisi musiknya juga masih terdengar asing buat saya, entah itu komposisi khas Jerman atau mana. Ketika ada narasi atau dialog si tokoh pun, suara musik orkestra itu terkadang menindih suara dialognya. Harusnya sound engineering bisa tanggap segera menyesuaikan volume. Narasi backsound pun juga kadang tidak terdengar jelas. Menurut saya, itu yang justru dapat membantu menuntun penonton untuk memahami ke-TanMalaka-an opera ini.

Dari kekurangan dari sudut pandang saya itu, saya takjub dengan beberapa hal yang ditampilkan. Pertama, koreografi dari prajurit dan para choir. Gerakan baris prajurit di panggung hingga naik tangga saya rasa merupakan gerakan yang tidak mudah. Ketika choir memindah-mindahkan buku juga begitu. Saya suka idenya. Buku yang dipegang choir ujung kiri panggung bisa berpindah ke kanan panggung. Estetika gerakannya cukup membuat saya tersenyum.

Narasi cerita dibawakan dengan suara vokal yang empuk. Saya jadi ingat sandiwara radio yang populer di akhir tahun 80-an. Gaya penceritaannya pun ringan namun tetap lugas pada bagian-bagian yang dititikberatkan.

Beberapa potongan dialog tentang Tan Malaka diambil dari buku Tan Malaka yang berjudul Madilog (Materialisme Dialektika Logika) pada bagian Pengantar Penulis. Salah satu slide pada film yang diputarkan nukilan salah satu halaman Madilog tentang atom. Di sini saya rasa sutradara ingin menunjukkan kepada publik bahwa seorang Tan Malaka telah menyusun sebuah buku yang telah membahas tentang atom. Artinya, Tan Malaka ini adalah seorang intelektual berharga yang dimiliki bangsa ini yang kiprah hidup tidak terekspos hingga kematiannya masih sebuah misteri.

Inti yang saya dapat dari pertunjukan ini adalah Tan Malaka adalah Bapak Republik Indonesia, seperti yang ditulis oleh Muhammad Jamin, yang jasanya sangat besar dalam menggerakkan revolusi melawan penjajah namun ironi melekat dalam kehidupannya. Hidup seperti berang-berang yang hidup dalam lubang yang digalinya sendiri. Seorang penggerak revolusi yang selayaknya mendapat sanjungan dari rakyat Indonesia seperti pada Bung Karno namun tak ada yang berlaku baginya. Justru, Tan Malaka tewas dengan tiada yang tahu mengapa, bagaimana, oleh siapa, dan dimana makamnya.

Dikabarkan seseorang ditembak mati.

Dikabarkan Tan Malaka ditembak mati.

Di daerah Kediri.

Mungkin di Bulan Februari

Mungkin April 1949

Siapa yang menembaknya

Dimana makamnya, dan

Apa sebabnya, itu adalah…”

Tapi ia lebih baik kosong. Tiap kali kita akan bisa mengisinya dengan fantasi. Tafsir Kita. Itu sebabnya Tan Malaka, akan selamanya absen-palsu atau tak palsu, mati atau hidup. Ia tak akanpernah hadir. Dan itu penting sekali.”

 

Aditya Kusuma Rachman

24 April 2011

*Nukilan naskah Opera Tan Malaka

Published in: on 24 April 2011 at 5:23 PM  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.